Sabo Dam Rp32 Miliar di Wae Laala Disorot, Diduga Gagal Kendalikan Banjir

NANAKU CORRUPTION 

SBB, NC NEWS.ID  – Banjir yang terus menerus terjadi di Sungai Wae Laala, Dusun Laala, Desa Loki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat kembali menuai sorotan tajam. Mega proyek pembangunan Sabo Dam yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku pada tahun anggaran 2025 dinilai belum mampu menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai pengendali banjir.

Proyek yang berada di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut menelan anggaran negara yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp32 miliar. Namun, besarnya nilai proyek tidak sebanding dengan hasil yang dirasakan masyarakat, terutama saat musim hujan melanda wilayah hulu Gunung Laala.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi Sabo Dam yang kini tertimbun material seperti tanah, kerikil, hingga kayu-kayuan. Kondisi ini menyebabkan aliran air tidak terkendali dan meluap ke pemukiman warga. Peristiwa banjir terbaru terjadi pada Senin (23/03/2026) sekitar pukul 08.26 WIT, saat hujan deras mengguyur wilayah hulu.

Sekretaris LSM Peduli Lingkungan Maluku (DPD AMPEL), Ardy Tomia, mengungkapkan bahwa proyek tersebut terdiri dari dua paket pekerjaan yang telah selesai pada Desember 2025. Namun, meskipun masih dalam masa pemeliharaan, fungsi pengendalian banjir belum berjalan optimal.

Menurut Ardy, berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, proyek tahap II tersebut mencakup dua unit Sabo Dam dengan kapasitas tertentu, dikerjakan sejak 12 Maret hingga 31 Desember 2025. Ia menyebutkan bahwa sejak selesai dibangun, Sabo Dam tersebut sudah beberapa kali tertimbun material longsoran dari Gunung Laala.

Ia juga menyoroti desain konstruksi yang dinilai kurang tepat, seperti banyaknya sekat dan bentuk lengkungan yang dinilai tidak mampu menahan material dari hulu. Hal ini menyebabkan lahar dan material longsoran dengan mudah meluap ke area pemukiman dan lahan pertanian warga.

Ardy mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut. Ia menegaskan bahwa perbaikan atau bahkan pembongkaran ulang perlu dipertimbangkan demi keselamatan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi warga yang terus dirugikan akibat banjir. Lahan pertanian rusak dan rumah warga terdampak setiap kali hujan deras terjadi, sehingga ia berharap ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengatasi persoalan ini. (NC-02)